[REVIEW] Sun Protection Emina vs Suncare Ristra

Seberapa penting sih kita pakai suncare atau sunscreen? Jawabannya penting banget. Kondisi lingkungan kita tinggal apalagi di kota pasti sudah nggak sebagus di desa yang banyak rimbun-rimbunnya. Semakin lama semakin panas, bikin dampak sinar matahari berlebih juga semakin buruk. Terutama untuk kalian yang sebagian besar aktivitasnya di luar ruangan. Your skin need suncare, indeed.

Efek buruk dari sinar matahari bisa bikin kulit kamu nggak cuma gosong, dalam jangka panjang akan mempercepat munculnya flek hitam. Dan flek hitam itu adalah satu-satunya masalah kulit yang sampai saat ini belum terpecahkan, karena selama ini yang aku rasain flek hitam nggak bisa hilang, yang bisa kita lakukan cuma memudarkan. Itu pun butuh waktu yang cukup lama. Jadi sebelum terkena efek buruk semacam flek hitam, nggak ada salahnya kamu menghadangnya duluan 😝

Aku sendiri sampai saat ini masih mencoba 2 merk suncare, dan secara pribadi dua merk ini udah cukup memenuhi kebutuhan kulit kita, nggak bikin makin oily dan nggak bikin grassy.

1. Ristra Suncare SPF 17

Ini adalah suncare yang pertama kali aku pakai sejak aku mulai aware sama kulitku yang tiap hari terpapar sinar matahari (maklum anak jalanan). Suncare ini enak dipakai, nggak bikin berminyak, dan aweetnya itu loh yang bikin suka. Teksturnya hampir kaya lotion, dan wanginya juga natural. Satu-satunya yang nggak aku suka dari suncare ini adalah efek putihnya, jadi sering bikin bekas jerawatku semakin keliatan kalau diolesi ini. Dan yang bikin gemes setiap aku kelebihan ngeluarin suncare ini ke tangan dari tubenya, sisa belepotan di lubangnya jadi kering.

Harganya bekisar Rp 70.000 untuk 100ml (bisa beda-beda di tiap toko, selisihnya bisa banyak antar toko). 


Kandungan Ristra Suncare SPF 17

 2. Emina Sun Protection SPF 30

Merasa kurang puas dengan SPF 17, aku berniat mencari pengganti si Ristra (kumat deh hasrat coba-cobanya), pas main-main ke Guardian eh lihat-lihat produk Emina dan disitu aku nemu Sun Protection ini, setelah dibaca lumayan nih SPF nya tinggian, tanpa ragu langsung deh aku beli. Harganya sekitar Rp 28.000 di Guardian netto 60ml.



Dilihat ingredientsnya suncare ini mengandung Aloe Vera, ya kamu tahu kan fungsi aloe vera kayak gimana, rekomendasi banget buat kelembaban kulit dan banyak produk yang saat ini menomor satukan kandungan aloe vera karena manfaatnya yang nggak perlu diragukan lagi.

Setelah dioles-oles dan kubandingkan dengan Suncare punya Ristra, suncare Emina ini menurutku lebih lembab dan meresap ke kulit, ringan banget! Finishnya juga nggak bikin putih kayak Ristra. Teksturnya lebih water jadi nggak perlu takut belepotan di muka karena keburu kering.


Atas : Emina Sun Protection SPF 30
Bawah : Ristra Suncare SPF 17
Kelihatan kan teksturnya kayak gimana? Selain itu aku makin suka karena SPF 30 nya lebih tinggi dibanding Ristra, jadi dia punya kemampuan melindungi kulit lebih lama dibanding SPF 17. Aku langsung kepincut sama produk Emina yang satu ini. Enak banget di kulit, meresap. 

Jadi mending mana? Dua-duanya enak dipakai, hanya saja Emina lebih unggul di SPF dan teksturnya lebih ringan. Sampai saat ini aku masih suka gantian kalau pakai suncare, untuk oil control dua produk ini cukup mumpuni, karena selama menggunakan nggak ada ceritanya kulit jadi kusam karena berminyak. 😁

Nah, buat kamu yang sampai saat ini belum menggunakan suncare saat beraktivitas di luar ruangan, segera sadar deh betapa bahayanya dan tersiksanya kulitmu. Jadi sebelum flek hitam, gosong dan belang menyerang, kita harus melakukan pencegahan 😊

Ekstrimnya Tanjakan Dhemit Demi Puncak Budug Asu

Akhirnya rasa penasaranku ke tempat wisata yang satu ini terpecahkan. Ada yang sudah ke Budug Asu nggak? Ini nih salah satu wisata di Malang yang letaknya dekat dengan gunung Arjuno. Kalau mau kesini kalian harus membulatkan tekad dulu, karena untuk sampai di puncak Budug Asu lumayan jauh sekitar 1-2 jam untuk sekali perjalanan dengan jalan kaki, kalau naik sepeda motor/trail bisa sampai sekitar 30-45 menitan. Karena aku dan temen-temen kesana lewat Kebuh Teh Wonosari jadi kita harus jalan untuk sampai ke Budug Asu. Sebelumnya temenku juga kesini dan lewat jalur BBIB Singosari, nah dia bisa naik sepeda sampai ke puncak, lumayan nggak capek-capek banget dan dia baru bilang pas aku udah pulang dari sana hgggg.

Lewat kebun Teh Wonosari kamu cukup bayar biaya masuk area kebun dan parkir:
Rp 10.000/orang weekday 
Rp 15.000-Rp20.000/orang (weekend) lupa hehe
Rp 2.000/sepeda motor

Nanti sebelum naik ke Budug Asu juga bayar Rp 5.000/orang, kebetulan waktu itu aku kesana udah siang jadi loketnya udah tutup, Gratis deng haaha!

Perjalanan ke sana cukup menguras tenaga, apalagi track yang masih batu dan pasir lembut, jadi kalian harus ikhlas kalau sepatu kalian bakal kotor. Satu lagi yang amat sangat penting, kalau kalian memutuskan untuk berjalan kaki, belilah air mineral ukuran 1L untuk tiap orang, dari pengalaman kemarin kita sampai kehabisan air dan itu bener-bener menyiksa, di puncak memang ada warung sih tapi kayaknya buka kalau pas weekend aja.
Track menuju Budug Asu

TRACK PALING EKSTRIM!
Pas sampai di loket Budug Asu kalian akan dihadapkan dua jalur untuk sampai ke puncak yaitu jalan biasa yang lebih jauh atau jalan dekat yang ekstrim. Terus mending lewat mana? Tergantung. Kalau kamu nggak mau capek kamu bisa ambil jalur biasa meskipun waktu tempuhnya lumayan lebih lama. Tapi kalau kamu suka track yang menantang mending lewat Tanjakan Dhemit deh, dijamin perjalanan kalian akan terkenang! Haha. Tapi balik lagi dari kondisi kalian, kalau kalian atau salah satu temen kalian phobia ketinggian lebih baik hindari track satu ini. Nggak apa-apa lewat jalur yang lebih jauh asal selamat. 


Yakinlah perjuangan itu bakal terbayar dengan pemandangan yang kalian dapat di puncak sana. It’s absolutely amazing!
Puncak
Ini cuma dari sisi kamera aja udah bikin adem mata. Apalagi kalian bisa lihat gugusan gunung Arjuno lebih dekat langsung di Budug Asu. Lain kali pasti balik lagi ke sini, tapi mending pakai sepeda motor, karena lebih efisien waktu dan tenaga hehe.

Area Foto Budug Asu
Nah semoga post ini berguna buat kalian yang punya plan buat main ke Budug Asu dan belum tau harus gimana nanti kesananya. Tunggu postingan trip selanjutnya ya!

UMKM Go Online Road to One Million

Hari ini dapat kesempatan buat jadi peserta seminar di kampus tercinta. Judul seminar ini keren banget  loh "UMKM Go Online Road to One Million", dari judulnya udah berat kan artinya hwhww. Jadi makin semangat nyimak. Seminar yang diadakan di Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim ini tak hanya mengajak para mahasiswa tapi juga para komunitas bisnis UMKM, dan pelaku UMKM. Karena sesuai tujuannya, acara ini diadakan untuk mempertemukan para owner UMKM yang ingin go online dengan mahasiswa yang merupakan generasi milenial, generasi serba digital, yang mana kemampuan dan pengetahuan marketing dan e-commerce lebih mumpuni. That's why kegiatan ini mengusung tema #PahlawanDigital bukan pahlawan bertopeng ya 😝



Nggak hanya sampai disitu, pembicara dari seminar ini juga orang-orang keren dibidang UMKM. Mereka mengupas habis kenapa sih kita harus menjadi salah satu bagian dari kemajuan UMKM Indonesia? Kenapa sih harus UMKM? Kenapa nggak perusahaan-perusahaan yang sudah multinasional? FYI, di Indonesia minat masyarakat terhadap dunia wirausaha masih sangat-sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah popuasi Indonesia, buktinya hanya sekitar 1,67% dari populasi Indonesia. 

Update :  Menurut catatan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), seperti yang diungkapkan oleh Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, jumlah pengusaha di Indonesia meningkat dari yang sebelumnya hanya sebesar 1,67% menjadi 3,10% dari total jumlah pendudukan Indonesia yang saat ini sebanyak 225 juta jiwa. -Koinworks

Jika dibandingkan dengan angka negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Amerika, Korea Selatan tentu saja nilai ini masih sedikit. Terus siapa yang bisa membangkitkan keinginan berwirausaha? Tentu saja KITA! Siapa lagi jika bukan generasi kita, apalagi dengan jumlah generasi produktif terbanyak di masanya, kemauan untuk berwirausaha harus ditanamkan, merubah mindset dari MENCARI LAPANGAN PEKERJAAN menjadi MENCIPTAKAN LAPANGAN PEKERJAAN. 

"Menjadi pegawai boleh, tapi jangan jadikan ini satu-satunya tujuan hidup kita."

Kita bisa berkaca pada China, kenapa produknya bisa membanjiri negeri kita? Karena UMKM mereka mampu bersaing di kancah internasional.  Lalu UMKM kita? Sudah saatnya generasi muda memberikan empati pada UMKM, menjadi pahlawan UMKM sekaligus menjadi bagian dari kesejahteraan nasional. Menjadi bagian dari perubahan perekonomian usaha kecil untuk bisa bersaing di kancah internasional. Yuk generasi muda!

Kobarkan Jiwa Wirausaha!

Gallery: Potret Pekerja Keras

Merjosari, Kota Malang

NIKON D5200 
f/6.3
1/200
ISO 500

Merjosari, Kota Malang
 NIKON D5200 
f/6.3
1/200
ISO 500
Merjosari, Kota Malang
 NIKON D5200 
f/6.3
1/250
ISO 200
Kota Malang
 NIKON D5200 
f/3.5
1/160
ISO 1000
Kota Malang
NIKON D5200 
f/3.8
1/125
ISO 1000
Hasil hunting Human Interest  tahun 2015, waktu masih awal-awal megang kamera, awal-awal belajar manual, jadi hasilnya masih nggak maksimal. Hehe.